Badan Liga Indonesia (BLI) akhirnya membatalkan rencana sentralisasi Liga Super Indonesia (LSI) di Jawa Timur, 17 April hingga 5 Mei mendatang. Namun jadwal sentralisasi tetap diberlakukan untuk menggelar pertandingan. Dengan demikian, Persib Bandung dipastikan akan tetap berlaga di Stadion Si Jalak Harupat saat menghadapi Sriwijaya FC, Jumat (17/4) mendatang.
Menurut Direktur Bidang Kompetisi BLI, Joko Driyono, PSSI melalui rapat bersama pengurus BLI lainnya akhirnya diambil keputusan untuk membatalkan sentralisasi tersebut. Keputusan PSSI didasari atas respons dari klub-klub yang bertanding di LSI terhadap jadwal yang dirilis oleh BLI.
"Setelah berkoordinasi dengan klub-klub melalui sambungan telepon, Ketua Umum PSSI (Nurdin Halid) memutuskan untuk membatalkan sentralisasi," kata Joko.
Keputusan PSSI untuk membatalkan sentralisasi LSI secara otomatis memindahkan tanggung jawab perizinan kepada masing-masing klub yang menjadi tuan rumah. BLI sendiri tidak akan menoleransi adanya pemunduran jadwal dengan alasan izin keamanan.
"Bila tidak mendapat izin, pertandingan harus dipindahkan ke tempat lain. Kalau memang tidak bisa menggelar, klub akan dinyatakan WO. Untuk mengubah tempat, BLI memberikan batas waktu hingga Selasa, 14 April 2009," kata Joko.
Sekretaris Badan Pengelola Persib, Edi Djukardi pun mengaku telah menerima keputusan tersebut melalui faksimile yang dikirimkan oleh BLI.
"Kita sudah menerima surat pembatalan sentralisasi tersebut. Kita pun langsung berkoordinasi agar dapat menggelarnya di Stadion Si Jalak Harupat," kata Edi.
Edi pun mengaku telah berkoordinasi dengan pengelola Stadion Si Jalak Harupat dan Polres Bandung agar dapat memberikan izin menggelar pertandingan Persib di Soerang, Kab. Bandung. "Kita berharap agar dapat diizinkan bermain di sana," katanya.
Sementara itu, pembatalan sentralisasi disambut gembira oleh Pelatih Persib Bandung, Jaya Hartono. "Jika harus bertanding dan berada 3 minggu di Jatim itu akan memberikan beban psikis bagi para pemain. Jika itu dibatalkan, berarti para pemain terlepas dari beban tersebut," katanya.
Selain itu, dengan dibatalkannya sentralisasi, Persib juga akan tetap dapat bermain di hadapan para bobotoh-nya. Hal itu sangat menguntungkan bagi tim karena bisa menjadi penyemangat.
Namun dibatalkannya sentralisasi bukan tidak berekses. Pasalnya, Persib terpaksa melakoni partai tandang dalam waktu yang sangat sempit. Berdasarkan jadwal sentralisasi, Persib harus melakukan 4 partai tandang dari 7 pertandingan yang harus dilakoninya.
Untungnya, laga tandang Persib melawan Persita (Senin, 20/4) dan Pelita Jaya (Selasa, 5/5) diperkirakan akan tetap dilaksanakan di Stadion Si Jalak Harupat. Karena kedua tim menjadikan Stadion Siliwangi dan Stadion Si Jalak Harupat sebagai markasnya.
"Ya kemungkinan paling jauh kita hanya bertandang ke Semarang melawan PSIS. Sedangkan lainnya masih tidak terlalu jauh," ujar Jaya.
wilujeng tepang
Selasa, April 14, 2009
Senin, April 06, 2009
SEJARAH PERSIB

Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetball Bond ( BIVB ) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot. Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta. BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung ( PSIB ) dan National Voetball Bond ( NVB ). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub- klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana,Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi. Di Bandung pun saat itu pun sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken ( VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan dipinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG. Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya.Klub- klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG ( kini Stadion Persib ), dan Lapangan SPARTA ( kini Stadion Siliwangi ). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung. Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai. Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun. Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda ( NICA ) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi. Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953- 1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah secretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangunkan Sekretariat Persib di Cilentah. Awal Persib memiliki gedung yang kini berada di Jalan Gurame, adalah upaya R. Soendoro, seorang overste replubiken yang baru keluar dari LP Kebonwaru pada tahun 1949. Pada waktu itu, melalui kepengurusan yang dipimpinnya, Soendoro menghadap kepada R. Enoch yang kebetulan kawan baiknya. Dari hasil pembicaraan, Walikota mendukung dan memberikan sebidang tanah di Jalan Gurame sekarang ini. Pada saat itu, karena kondisi keuangan yang memprihatinkan, Persib tidak memiliki dana untuk membangun gedung, Soendoro kembali menemui Walikota dan menyatakan, “ Taneuh puguh deui, tapi rapat ditiungan ku langit biru,” kata Soendoro. Akhirnya Enoch juga membantu membangun gedung yang kemudian mengalami dua kali renovasi. Kiprah Soendoro sendiri didunia sepak bola diteruskan putranya, antara lain, Soenarto, Soenaryono, Soenarhadi, Risnandar, dan Giantoro serta cucunya Hari Susanto. Dalam menjalankan roda organisasi beberapa nama yang juga berperan dalam berputarnya roda organisasi Persib adalah Mang Andun dan Mang Andi. Kedua kakak beradik ini adalah orang lapangan Persib. Tugas keduanya, sekarang ini dilanjutkan oleh putra dan menantunya, Endang dan Ayi sejak 90-an. Selain juga staf administrasi Turahman. Renovasi pertama dilakukan pada kepemimpinan Kol. CPM Adella ( 1953- 1963 ). Kini sekretariat Persib di Jalan Gurame itu sudah cukup representatif, apalagi setelah Ketua Umum H. Wahyu Hamijaya ( 1994- 1998 ) merenovasi gedung tersebut sehingga menjadi kantor yang memadai untuk mewadahi berbagai kegiatan kesekretariatan Persib. Kemampuan Persib menjaga nilai- nilai dan tradisinya serta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tentu tidak lepas dari figur Ketua Umum bukan hanya figur yang berkemampuan mengelola organisasi dalam artian agar organisasi itu terus hidup, melainkan juga figur yang mampu menggali potensi dan mengakomodasikan kekuatan yang ada, sehingga kiprah Persib dalam kancah sepakbola nasional terus berlangsung lewat berbagai karya Persib.
Langganan:
Postingan (Atom)
